Kondisi
dunia pendidikan di Indonesia saat ini sedang banyak disorot. Bukan
karena kemajuannya tapi karena kemundurannya yang akut. Tahun demi tahun
semakin tidak karuan arah kebijakan politik pendidikan nasional. Tak
ayal, pelaksanaannya pun menuai banyak kecaman. Sebut saja misalnya,
fasilitas gedung sekolah-sekolah dasar hingga menengah di berbagai
daerah yang bak kandang ayam, sebut salah seorang guru pada hari
pendidikan nasional 2008 di Solo. Jangankan di daerah-daerah terpencil,
di Jakarta saja beberapa kali kejadian atas sekolah roboh karena korupsi
dalam proyek pembangunannya. Soal korupsi dunia pendidikan ini,
Indonesia mungkin juara pertamanya.
Potret
negatif pendidikan tanah air ini tidak luput dari kacamata dunia.
Al-Jazeera, salah satu stasiun televisi berita dari Qatar, memotret
buramnya dunia pendidikan Indonesia dalam reportase khusus 101 East.
Seperti dilansir Al-Jazeera, Rabu (27/2/2013), reportase tersebut
menyelidiki mengapa sistem pendidikan di Indonesia merupakan salah satu
yang buruk di dunia.
Liputan
Al-Jazeera dititikberatkan pada cerita salah satu Pengajar Muda dari
program Indonesia Mengajar besutan Anies Baswedan. Pengajar yang juga
Sarjana Teknik berusia 23 tahun ini meninggalkan kemewahan Jakarta untuk
mengajar di daerah Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelum
diberangkatkan ke daerah Terluar, Terdepan, Tertinggal (3T) di seluruh
Indonesia, para Pengajar Muda dibekali latihan bertahan hidup ala
militer.
Al
Jazeera menyebut, belum lama ini Indonesia berada pada peringkat akhir
dalam pemeringkatan taraf pendidikan yang menghitung tingkat literasi,
hasil ujian, tingkat kelulusan dan parameter kunci lainnya dari 50
negara. Selain itu, hanya sepertiga dari 57 juta anak usia sekolah di
Indonesia yang menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. Minimnya kondisi
pendidikan di Indonesia juga diperparah dengan rendahnya mutu pengajar
dan wabah korupsi di berbagai bidang.
Saat
ini, privatisasi dunia pendidikan makin mendapatkan kejayaannya ketika
UU Sisdiknas dan UU BHP dibuat. Lembaga pendidikan berwatak seperti
perusahaan jasa keuangan yang menjadikan peserta didiknya bagai sapi
perahan. Kadangkala, orangtua pun terlalu banyak dibebani berbagai macam
pungutan dengan berbagai alasan yang mengada-ada.
Menurut
Irwansyah, pengajar di FISIPOL UI, kini dunia pendidikan sudah seperti
politik apartheid. Terjadi diskriminasi terhadap anak-anak dari keluarga
miskin. Akses pengetahuan bagi anak-anak kekuarga miskin dijamin tidak
akan terpenuhi jika pendidikan berbiaya mahal sekali. Menurutnya,
diperlukan sikap kritis dan langkah perlawanan terhadap kebijakan
privatisasi dunia pendidikan yang merupakan agenda rejim pasar bebas.
Jika
pengetahuan dan akses pendidikan menjadi ekslusif hanya bagi kalangan
yang mampu saja, dijamin seribu persen, jutaaan anak-anak dari keluarga
miskin akan buat pengetahuan. Akibatnya, jurang kemerosotan dan
keterbelakangan bangsa ini makin menganga. Dan, zaman kegelapan
jahiliyah akan kembali terulang. Bukan di Arab, tapi di sini. Di negeri
yang kaya akan sumber daya alam nan melimpah ruah yang bernama
Indonesia. (Jejen)
Sunday, 2 June 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment